Bahaya Menghina Agama

Wednesday, January 2nd 2019. | Aqidah

Penulis : Al-Ustadz Muhammad Rofi’i
Memperolok-olok agama merupakan kemurtadan dalam islam serta mengeluarkan dari agama secara totalitas:

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Allah berfirman: “Katakanlah, mengapa kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta Rasu-Nya kamu berolok-olok?. Tidak usah meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman.” (QS:At-Taubah 65-66).

Ayat diatas menunjukkan serta memberikan hukum bahwa memperolok-olok Allah, Rasul-Nya dan ayat-ayat-Nya merupakan suatu kekufuran, siapa saja yang menghina salah satu dari perkara-perkara yang telah disebutkan maka sama halnya menghina seluruhnya. Sebagaimana yang telah terjadi pada orang-orang munafik bahwa mereka menghina Rasulullah dan para sahabatnya sehingga Allah menurunkan ayat-Nya.

Ketahuilah bahwa menghina perkara-perkara yang telah disebutkan saling memberikan kosekuwensi. yakni, orang yang meremehkan tauhid pasti dia akan mengagungkan peribadatan selain Allah, apabila ia diperintah kepada tauhid dan dilarang dari syirik pasti dia akan meremehkannya, sebagaimana Allah tegaskan dalam firman-Nya:

وَإِذَا رَأَوْكَ إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَٰذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولً (41) إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلَا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا ۚوَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ مَنْ أَضَلُّ سَبِيلًا

Apabila mereka melihatmu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): “Inikah orang yang diutus Allah sebagai Rasul?. Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sesembahan kita seandainya kita tidak bersabar (menyembah) nya.” (QS:Al-Furqon 41-42).

Orang-orang musyrik dahulu selalu menghina Rasulullah apabila mereka dilarang dari kesyirikan, terus menerus mereka menghina Nabi-nabi Allah dan memberikan julukan-julukan yang tidak pantas: bodoh, sesat, dan gila, apabila mereka diseru kepada tauhid, karena memang pada diri mereka ada bentuk pengagungan terhadap kesyirikan. Demikianlah anda akan jumpai orang yang serupa dengan mereka. Apabila dia melihat orang yang berdakwah menyeru kepada tauhid pasti dia akan memperolok-oloknya, karena ia memiliki kecondongan terhadap kesyirikan, sebagaimana Allah memberitakan dalam firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ

Dan diantara manusia ada yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cinta seperti mencintai Allah.” (QS:Al-Baqarah 165).

Siapa saja yang mencintai makhluk seperti kecintaannya kepada Allah maka dia musyrik. Sehingga perlu difahami perbedaan cinta karena Allah dan cinta bersama Allah, orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai sesembahan selain Allah anda akan jumpai mereka akan meperolok-olok orang yang mentauhidkan Allah serta hanya beribadah kepada-Nya, mereka akan mengagungkan apa yang mereka jadikan sebagai pemberi syafaat dari selain Allah, bahkan diantara mereka berani bersumpah atas nama Allah dengan kedustaan, padahala mereka sangat takut bersumpah dengan kedustaan atas nama syaikh mereka.

Banyak kelompok-kelompok menyimpang yang mana anda akan melihat diantara mereka berkeyakinan bahwa meminta kepada syaikhnya lebih bermanfaat daripada meminta kepada Allah dimasjid pada waktu sahur! Dan mereka akan minghina orang yang berusaha meniti jalan tauhid, dan tidak sedikit dari mereka berani menghancurkan rumah-rumah Allah dan memakmurkan tempat-tempat keramat, tidaklah ini semua kecuali bentuk penghinaan terhadap Allah, ayat-ayat, dan Rasul-Nya, serta pengagungan terhadap kesyirikan, ini banyak terjadi dari para penyembah dan pengagung kuburan.

Menghina agama ada dua macam:

  1. Penghinaan yang jelas, hal ini seperti orang-orang yang divonis oleh Allah dalam ayat dengan kekafiran yakni karena ucapan mereka: “kami tidak pernah melihat semisal mereka yang mana amat besar perutnya, amat dusta lisannya, dan amat pengecut ketika bertemu musuh (yang mereka inginkan adalah Rasulullah dan sahabatnya). Atau selain dari pada itu dari ucapan-ucapan penghinaan, seperti ucapan sebagian mereka: “Agama kalian ini adalah agama kelima” atau “ Agama kalian agama yang membingungkan” atau ucapan mereka ketika melihat orang yang menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar “ Datang kepada kalian orang yang sok beragama”, dan ucapan-ucapan yang tidak mungkin untuk dibatasi. yang sejatinya ucapan mereka lebih berbahya dari pada ucapan orang-orang munafik yang mereka telah divonis oleh Allah dengan kekafiran.
  2. Penghinaan yang tidak jelas, bentuk celaan semisal ini bagaikan laut yang tak bertepi, seperti: mengedipkan mata, menjulurkan lidah, menjulurkan bibir, berisyarat dengan tangan ketika ada yang membaca Al Qur’an dan sunnah Rasulullah, berisyarat yang jelek ketika ada yang amar ma’ruf dan nahi minkar. Dan termasuk penghinan jenis kedua ini juga perkataan sebagian orang yang menyatakan bahwa islam tidak layak diterapkan untuk abad ke-20 , islam hanya cocok untuk abad pertengahan, ajaran islam itu kuno, ketinggalan zaman, hukum-hukum islam itu kaku dan keras, dan islam amat menzalimi hak wanita karena di perbolehkannya perceraian dan poligami. Diantara mereka ada yang mengatakan berhukum dengan undang-undang lebih baik untuk manusia dari pada hukum islam. Mereka menjuluki orang yang berdakwah kepada tauhid dan mengingkari peribadatan kepada kuburan dan tempat-tempat keramat dengan aliran ekstrim atau orang yang memecah persatuan kaum muslimin, wahhabi, madzhab kelima, dan apa yang serupa dengan ucapan-ucapan ini yang inti semua itu adalah bentuk celaan terhadap agama dan pemeluknya, serta celaan terhadap aqidah yang benar, Laa Haula Wa Quwwata Illa Billah. Merupakan celaan mereka terhadap orang-orang yang komitmen dengan sunnah Rasulullah: “Agama bukan hanya dirambut” dalam rangka menghina orang yang memelihara jengkotnya, dan yang serupa dengan kata-kata yang tidak sopan ini.

Diterjemahkan dari kitab Aqidatut tauhid karya DR. Sholih bin Fauzan bin Abdullah Al Fazan Hafizahullah

tags: , , , ,